Dirut

Posted: 19/03/2013 in Uncategorized

Cerita ini bukan merupakan kisah nyata saya,melainkan kisah nyata yang ada di daerah saya,Kota Lahat,Provinsi Sumsel.Selamat membaca..😦

Dirut…. Dirut….

Dirut jangan nangis

Bapang ka bejalan

Bejalan dek ke lame

Oi Dirut tinggallah kudai

Dirut jangan nangis

Pejamkanlah mata

(penggalan lagu “Dirut”)

Sayup-sayup kudengar Mang Ujuk mendendangkan Dirut. Suaranya lirih namun terdengar lantang, menerobos relung hati bagi yang mendengarkannya. Menyayat hatiku. Lagu itu, lagu yang mengingatkanku pada sosok Bapak yang selalu bersenandung ketika menidurkanku dalam buaiannya.

Aku menutup gendang telingaku. Merapatkan tanganku, agar dendang itu tak sampai ke telingaku. Aku merengsek menjauh. Bukan karena suara Mang Ujuk, tapi sekali lagi semua karena lagu yang dinyanyikan oleh adik ibuku itu.

Aku menerawang kembali. Menilas balik kehidupankku beberapa tahun silam. Meskipun aku tidak mampu mengingatnya secara keseluruhan karena keterbatasan memori otakku, tapi setidaknya aku masih mengingat suara sumbang Bapak yang selalu menina bobokan aku. Lagu Dirut itulah yang menjadi andalannya. Dan entah mengapa, ketika itu aku amat menyukainya.

Aku sering meminta bapak untuk menyanyikan lagu itu. Walau lelah dirasa, lelaki itu tak pernah menolak permintaanku. Bagiku lagu itu terdengar begitu indah di telingaku. Aku tak pernah merasa bosan ketika bapak mendendangkannya. Walaupun aku menyadari suaranya tidaklah semerdu penyanyi yang sering kulihat di televisi, aku tak peduli.

Ibu pun sepertinya sudah sangat paham dengan kebiasaanku ini. Sehingga setiap malam bapak akan setia menemaniku bersama suaranya yang berat mendesah sampai kau terlelap.

“Ranti, kamu tidak ke rumah sakit?” tanya Mang Ujuk. Ternyata pamanku itu sudah selesai dengan nyanyiannya.

Aku mencoba tersenyum

“Tidak, Mang. Ranti belum bisa. Mungkin lusa Ranti akan ke sana. Siti sudah tidur, Mang?” tanyaku.

“Ya…. Susah sekali menidurkannya. Anak itu baru bisa tidur kalau Mamang menyanyikan lagu Dirut. Mirip sekali seperti kamu kecil dulu.”

Aku tersenyum dipaksa.

Ya, sama seperti aku yang baru bisa tidur jika bapak menyanyikan lagu itu. Mengantarku terlelap di bawah sadar.

“Kalau begitu apa rencanamu hari ini?”

“Entahlah, Mang. Mungkin Ranti mau ke rumah Bik Mun, membantunya menguleni pempek. Lagi banyak pesanan katanya,” jawabku.

Mang Ujuk menganguk-angguk lalu pergi meninggalkanku yang masih tergugu di teras depan.

@@@

Matahari bersinar begitu garang. Hal itulah yang membuatku enggan untuk pergi ke rumah sakit. Sekarang ibuku sedang dirawat di rumah sakit. Rumah sakit jiwa tepatnya. Sudah hampir lima belas tahun ibuku menjadi penghuni tetap disana. Sejak usiaku lima tahun aku harus ditinggalkan ibu yang mengalami gangguan jiwa.

Lalu kemana bapak? Aku rasanya tak ingin mengingat laki-laki itu lagi. Laki-laki itulah yang membuat ibuku seperti ini. Dan laki-laki itu juga yang telah membuat hidupku menderita. Orang-orang tak pernah berhenti mencemoohku.

‘Ranti anak orang gila.’ Atau umpatan lainnya.

‘Ranti anak pembunuh.’

Telingaku seperti sudah kebal mendengarnya walau hati ini begitu membara. Toh memang begitulah keadaannya.

Aku berjalan gontai menuju rumah Bik Mun yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah Mang Ujuk. Kudapati Bik Mun yang sedang membentuk adonan pempek. Pakaiannya kotor bermandikan tepung sagu. Bahkan wajahnya pun tak luput dari serbuk putih itu.

Wanita itu menyambutku dengan senyuman. Ia pun memberiku isyarat untuk menghampirinya.

“Tidak ke rumah sakit, Ran?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Tumben. Biasanya setiap Rabu kamu selalu mengunjungi ibumu,” lanjut Bik Mun. tangannya dengan cekatan membentuk adonan lalu mengisinya dengan kocokan telur.

“Malas, Bik,” jawabku singkat. Aku mengambil adonan dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Bik Mun.

“Mungkin lusa aku akan menemui Ibu,” lanjutku. Wanita itu pun tersenyum.

“Kasihan ibumu, Ran.” Bik Mun berujar.

Aku menatap Bik Mun. Aku tak menyadari kalau adonan yang kupegang telah jatuh. Dan perlahan butir-butir air mata membasahi mataku. Aku berusaha untuk menahannya. Tapi percuma, aliran itu seperti tak terbendung.

Cepat-cepat Bik Mun mencuci tangannya dan menyeka air mataku. Aku memang terlalu cengeng jika orang mengasihani nasibku.

“Maafkan Bibik, Ran. Bukan maksud Bibik untuk mengungkitnya.” Bik Mun merasa bersalah.

“Ini bukan salah Bibik kok. Ini semua salah Bapak.” Dengan sesegukan aku menyalahkan laki-laki yang kupanggil bapak.

“Kau tak pernah menemuinya, Ran?”

“Untuk apa aku menemuinya. Dia sudah membuat ibu jadi gila, membuatku tersiksa. Dia….” Tangisku menjadi-jadi. Bik Mun mengusap lembut kepalaku.

“Jangan menghukumnya seperti itu, Ran. Bagaimanapun ia adalah bapakmu. Dan Bibik yakin itu semua bukan kesalahan bapakmu.” Bik Mun menenangkanku.

“Dia bukan bapakkku! Aku tidak punya bapak seorang pembunuh! Ranti malu mengakuinya, Bik.” Aku segera berlari meninggalkan Bik Mun yang melepasku dengan iba. Tak peduli dengan adonan yang kubuat tadi atau pun tanganku yang kotor bermandikan sagu.

Air mataku terus saja mengalir. Tak kupedulikan pertanyaan Mang Ujuk yang melihatku pulang sambil bercucuran air mata. Aku langsung mengunci diri di kamar. Mang Ujuk sibuk memanggilku dari balik pintu. Kututup telingaku dengan bantal.

“Jangan ganggu Ranti, Mang! Biarkan Ranti sendiri!” teriakku.

Dan sepertinya Mang Ujuk menuruti perintahku. Suara ketukan pintu sudah tidak terdengar lagi. Masih saja air mataku mengalir deras membentuk suatu genangan di bantalku.

Kembali kuingat kejadian lima belas tahun yang lalu. Di saat bapak menidurkanku dengan lagu Dirut-seperti biasanya-kejadian itu terjadi. Tiga orang berseragam polisi membawa bapak dengan tangan terborgol. Aku mencoba mencegah polisi-polisi itu membawa pergi bapak. Karena pikirku, siapa yang akan menidurkanku dengan nyanyian itu selain bapak, tidak ada.

Tapi tubuhku terlalu kerdil untuk menghalangi polisi-polisi tegap itu membawa bapakku. Sementara ibu, wanita itu tidak berbuat apapun. Beliau sepertinya merelakan kepergian bapak.

Aku mengguncang tubuh ibu, menyuruhnya untuk segera bertindak. Tapi, ibu malah diam bahkan wanita itu menghempasku, membuat tubuh kecilku terjerembab di tanah basah. Tatapan wanita itu kosong dan…entahlah aku sudah tak ingat lagi.

Yang jelas, sejak kejadian itu aku tidak pernah bertemu lagi dengan bapak. Yang kutahu, bapak harus mendekam di penjara, mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dan sampai saat ini aku tak pernah mau mendengar cerita Mang Ujuk perihal kejadian itu. Aku tak mau.

Ibu? Wanita itu menjadi penghuni rumah sakit jiwa.

Dan karena itulah aku membenci bapak, laki-laki yang selama ini aku kagumi, laki-laki yang selama ini selalu menina bobokan aku dengan nyanyian yang menurut orang yang mendengarnya sungguh menyiksa pendengaran. Laki-laki yang menjadi panutan bagiku. Tapi… ah, laki-laki itu sekarang sudah tak pantas aku kagumi lagi. Ia sudah mengecewakanku, membuat ibu juga diriku menderita lahir dan batin.

@@@

“Bapak…!!” jeritku disertai isakkan ketika polisi-polisi itu membawa bapak.

Lalu….

“Ibu…!!” jeritku kala orang-orang berpakaian serba putih membawa ibuku.

Sungguh… kejadian-kejadian itu begitu membekas dalam relung hatiku. Dua orang yang aku cintai, dalam waktu yang hampir bersamaan pergi meninggalkanku. Padahal usiaku pada waktu itu baru lima tahun. Suatu jenjang usia yang seharusnya membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tua.

Sayup-sayup kudengar orang-orang berbicara.

“Kasihan Ranti. Masih kecil harus mengalami hal seperti ini. Bapaknya ditahan polisi karena kasus pembunuhan. Sementara ibunya menjadi gila. Anak yang malang.”

Kaki kecilku menghampiri orang-orang yang mengasihani aku itu. Mataku yang memerah campuran antara kesedihan dan kemarahan menatap mereka tajam.

“Bapak bukan pembunuh! Ibuku tidak gila!” Aku menentang keras ucapan mereka.

Tangan Mang Ujuk pun menarikku, membawaku menjauh dari mereka. Adik bungsu ibuku itu menenangkan tangisku.

Perlahan aku mulai mengetahui sebab dari penangkapan bapak. Laki-laki itu terlibat dalam suatu kasus pembunuhan. Pembunuhan terhadap seorang preman kampung. Banyak saksi yang memberatkan bapak.

Dan sejak mengetahui hal itu, benih kebencian mulai menyelimuti hatiku pada sosok bapak. Bagiku, bapak adalah seorang pendosa besar. Bukan saja telah membunuh, tapi juga telah menelantarkan anak dan istrinya. Aku pun tak berniat untuk sekedar menemuinya dari balik jeruji bui yang dingin, yang mengukungnya dari dunia luar. Aku tak mau melihat laki-laki itu lagi.

Begitu juga dengan lagu yang sering dinyanyikannya untukku. Jika aku mendengarnya, aku akan menjauh sejauh mungkin agar bayangan bapak tidak melintas di kepalaku.

@@@

“Ranti!” panggil seseorang ketika aku akan memasuki rumah yang menjadi tempat berlindungku selama lima belas tahun.

Aku tertahan di tempatku. Suara di belakangku sepertinya pernah kudengar daan terdengar begitu akrab di telingaku. Tapi aku sulit untuk menebak milik siapa suara itu.

Perlahan kubalikkan tubuhku. Di hadapanku telah berdiri sesosok laki-laki. Ia mengenakan kaos lusuh berwarna hitam. Dagunya ditumbuhi oleh jenggot yang cukup lebat. Ia pun tersenyum padaku.

“Apa kabar, Dirut?” tanyanya.

Dirut?

Itu adalah nama kecilku. Dan hanya satu orang yang memanggilku dengan nama itu, bapak.

Aku memperhatikannya dengan seksama. Rambutnya sudah memutih. Tubuhnya kurus dan terkesan tak terurus. Tahi lalat di pelipis matanya mengingatkanku pada seseorang.

Bapak!!! Ya, laki-laki di hadapanku ini adalah bapak.

Bapak mendekatiku dan mencoba memelukku. Binary kerinduan terlihat di matanya yang sayu. Aku mundur beberapa langkah. Tak kubiarkan tangan kurusnya menyentuh tubuhku. Aku sudah terlanjur membencinya.

Ia pun maklum dengan sikapku. Matanya menatapku dengan iba.

“Ini Bapak, Ranti,” ujarnya lembut.

“Bapak? Bapakku sudah mati,” jawabku keras.

Ya Allah, maafkan aku. Sungguh aku telah menolak laki-laki di hadapanku ini sebagai bapakku. Aku terlanjur membencinya. Sangat membencinya. Hatiku telah tertutup oleh rasa benci yang menggunung. Aku tak bisa mengontrol ucapanku, sehingga kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutkku.

“Ranti, jangan berkata seperti itu pada bapakmu!” Mang Ujuk memarahiku. Dia berdiri di belakang bapak. Sepertinya Mang Ujuklah yang menjemput bapak. Sebuah tas masih ditentengnya.

“Dia seorang pembunuh, Mang!” Aku menuding bapak. Telunjukku mengarah ke depan mukanya.

“Kau salah paham, Ran. Bapakmu orang baik. Ia membunuh karena terpaksa.” Mang Ujuk menjelaskan.

“Terpaksa? Tidak! Ia sudah menghabisi nyawa orang lain. Dia juga yang menyebabkan ibu menjadi gila.” Aku menatap bapak dengan tajam. Dan tak kusangka mata bapak menyiratkan keterkejutan.

“Apa? Ibu gila?” tanyanya tak percaya.

“Ya…. Dan itu semua karena Anda!” Aku masih saja menudingnya.

“Maaf, Kak, aku merahasiakan hal ini. Ayuk menderita goncangan jiwa yang cukup hebat. Dan kami pun membawanya ke rumah sakit jiwa. Sampai saat ini ayuk belum sembuh juga.”

Bapak terduduk lemas. Ia menyungkurkan dirinya ke tanah. Aku tertawa mengejeknya.

“Sekarang Anda tahu betapa menderitanya kami. Ini semua karena kesalahan Anda.”

“Maafkan Bapak, Dirut. Kau memang pantas membenci Bapak.” Bapak merutuki dirinya sendiri.

Ia pun berjalan meninggalkanku yang masih tersulut emosi. Berjalan gontai. Mang ujuk berusaha mencegah Bapak. Tapi aku menghalanginya.

“tidak perlu dikejar, Mang. Tak ada tempat untuk seorang pembunuh.”

“Kau gila, Ran. Bapakmu tidak bersalah. Ia membunuh bukan tanpa sebab. Ia membunuh kemaksiatan. Kau tahu, siapa yang dibunuh bapakmu?” Mang Ujuk menghentikan ucapannya. Ia menatapku tajam.

“ia membunuh orang yang akan memperkosa ibumu. Menyelamatkan kemuliaan ibumu. Ibumu menjadi gila karena perbuatan orang bejat itu, bukan karena bapakmu, Ran. Bapakmu orang baik. Sungguh, kau sudah berdosa besar.” Mang Ujuk meninggalkanku, mengejar bayang-bayang Bapak yang sudah menghilang di tikungan jalan.

Kembali kuingat saat Bapak menyanyikan Dirut untukku. Bapak tak pernah bosan melakukannya untukku.

Tiba-tiba sekelilingku terasa ramai. Orang-orang berlari di hadapanku.

“Ada apa?” Aku mencegat seseorang yang lewat di depanku.

“Kecelakaan. Seorang laki-laki tua ditabrak truk.”

Aku pun mengikutinya dari belakang. Kerumunan massa menghalangi pandanganku. Aku berusaha menerobos. Kulihat Mang Ujuk terduduk memegangi tubuh yang bersimbah darah.

Tubuh itu….

“Bapak….!!!” Suaraku memecah membelah kerumunan. Aku langsung menghambur ke pelukan bapak. Kupegangi wajahnya yang bermandikan darah.

“Maafkan Bapak, Dirut. Dirut jangan nangis. Bapak akan berjalan, menemui-Nya.” Kata-kata itu adalah arti dari sebait lagu yang sering dinyanyikannya.

Aku mengguncang-guncang tubuhnya. Tangisku berderai.Tak dapat lagi aku mendengarkannya menyanyikan lagu itu. Tak ada lagi orang yang memanggilku Dirut.

Apa yang harus kukatakan pada Ibu? Bapak sudah benar-benar berjalan, berjalan menuju keabadian. Seperti lagu yang sering dinyanyikanya.

@@@

NB:

-Dirut: Lagu daerah Lahat, Sumatera Selatan

-Bapang ka bajalan: bapak akan berjalan (pergi)

-Mang Ujuk: Adik laki-laki ayah/ibu yang terkecil.

-Ayuk: Panggilan kakak perempuan

Demikian cerita pendek dari daerah saya.Semoga dapat diambil hikmahnya dari cerita yang masih sangat banyak kekurangan ini.Terima kasih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s